GAYA KEPEMIMPINAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN UMUM DAN LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM
Pendahuluan
A.
Latar
Belakang
Hal-hal
yang berkaitan dengan pendidikan selalu
menarik untuk dibahas dan dikaji secara mendalam, karena disatu pihak merupakan
suatu akibat dari berbagai pengaruh yang ada di luar, seperti pengaruh sosial,
ekonomi, politik, dan budaya, baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat
negatif. Di pihak lain, pendidikan merupakan kekuatan yang menyebabkan
terjadinya perubahan sosial. Menurut Jean Piaget “ only education is
capable of saving our societies from possible collepse, whether violent or
gradual” hanya pendidikan yang mampu menyelamatkan masyrakat kita dari
kemungkinan keruntuhannya baik secara keras revolusi atau evolusi, seperti
apa pendidikan seperti itulah nanti cerminan masyarakat kita
Lembaga
pendidikan merupakan salah satu bentuk organisasi, dan dalam organisasi
kepemimpinan memegang peranan yang sangat menentukan dalam menggerakkan dan
memanfaatkan potensi yang dimiliki organisasi guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Kita juga sering mendengar betapa pentingnya memilih
pemimpin, Rosulullah bersabda
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ.
“Jika tiga
orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang
dari mereka sebagai ketua rombongan.”[1]
Betapa pentingnya pemimpin dalam suatu organisasi sekolah, kemana
arah lembaga pendidikan tersebut diarahkan bergantung besar salah satunya pada
seorang pemimpin karena Kepemimpinan adalah seni dalam mempengaruhi orang lain
dengan tujuan tercapainya apa-apa yang diinginkan, setiap orang mempunya
karakter dan gayanya masing-masing dalam memimpin, maka dari itu makalah ini
akan coba mengulas bagaimana gaya seorang pemimpin dalam kepemimpinannya
berdasarkan teori-teori dari para ahli tentang gaya-gaya kepemimpinan dalam
lembaga atau suatu organisasi khususnya
lembaga pendidikan islam
Pembahasan
B.
Pengertian
gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan
merupakan dasar dalam mengklasifikasi tipe kepemimpinan. “Gaya kepemimpinan
memiliki tiga pola dasar yaitu mementingkan pelaksanaan tugas, yang
mementingkan hubungan kerja sama, dan yang mementingkan hasil yang dapat
dicapai”.[2]
“gaya kepemimpinan adalah cara yang dipergunakan pemimpin dalam
mempengaruhi para pengikutnya, menurut Thoha yang dikutip dari buku Daryanto,
gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat
orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
Dalam hal ini usaha menyelaraskan persepsi diantara orang yang akan
mempengaruhi perilaku dan yang akan dipengaruhi menjadi amat penting
kedudukannya.
Gaya kepemimpinan
merupakan suatu pola perilaku seseorang pemimpin yang khas pada saat
mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan,
cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya
kepemimpinannya”.[3]
Menurut ngalim purwanto “Pendidikan perilaku berdasarkan pemikiran
bahwa keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan ditentukan oleh sikap atau gaya
kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin”.[4]
Dapat disimpulkan dari beberapa pendapat diatas bahwa gaya
kepemimpinan adalah gaya atau cara bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi
orang yang dipimpin dalam rangka mencapai tujuan dari kepentingan lembaga atau
organisasi tersebut,
C.
Macam-macam
gaya kepemimpinan
“Menurut Syahrizal Abbas dalam bukunya ada 8 gaya kepemimpinan”.[5]
- Gaya Kharismatik
Gaya kepemimpinan Kharismatik memiliki daya tarik dan pembawaan
yang luar biasa, sehingga ia mempunyai pengikut dan jumlahnya yang sangat luar
biasa. sampai sekarang pun orang tidak mengetahui sebab-sebab secara pasti
Mengapa seseorang itu memiliki Kharisma yang begitu besar. para peneliti studi
Leadhersip menemukan bahwa seorang pemimpin karismatik memiliki keterkaitan
dengan kekuatan gaib (Supernatural), dimana kekuatan-kekuatan-nya diperoleh
dari Yang Maha Kuasa. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan daya tarik
yang amat besar. tokoh besar yang barangkali dapat dikategorikan kedalam
Pemimpin yang memiliki gaya Kharismatik antara lain Jengis Khan, Gandhi, John
Kennedy, Soekarno dan lain-lain.
- Gaya Patternalistik dan Matternalistik
Gaya kepemimpinan Patternalistik adalah gaya kepemimpinan yang
mengikuti pola hubungan orang tua dengan anak, sehingga gaya ini dikenal dengan
gaya kepemimpinan “Kebapakan”. Ciri gaya kepemimpinan Patternalistik adalah:
- Atasan menganggap bawahan sebagai manusia
yang belum dewasa, dan bersikap terlalu melindungi (Over Protektif)
sehingga bawahan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri
melalui inovasi-inovasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
- Atasan jarang sekali memberikan kesempatan
kepada bawahan untuk berinisiatif atau mengambil keputusan sendiri.
Akibatnya, staf selalu dibayangi oleh atasannya dalam menjalankan tugas
- Atasan jarang memberikan kesempatan atau
hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk
mengembangkan kreativitasnya
- Atasan bersikap selalu lebih tahu atau
lebih benar, dan sedikit sekali dapat menerima masukan dan saran dari
bawahannya.
Gaya kepemimpinan Matternalistik mirip dengan gaya
kepemimpinan Patternalistik dengan sedikit perbedaan yaitu adanya sikap Over
Protective atau terlalu melindungi yang lebih menonjol dan disertai
dengan kasih sayang yang berlebihan.
- Gaya Militeristik
Gaya kepemimpinan kepemimpinan Militeristik berbeda dengan gaya
kepemimpinan dalam organisasi militer. sifat dan gaya kepemimpinan militeristik
antaralain:
· Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando kepada
bawahannya.
· Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan nya.
· Menyenangi formalitas dan upacara-upacara ritual yang berlebihan.
· Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahan nya (disiplin
kadaver)
· Tidak menghendaki saran-saranatau kritikan dari bawahannya.
- Gaya Otokratik
Gaya pemimpin Otokraktik mendasarkan diri pada kekuasaan dan
paksaan yang harus selalu dipatuhi. Pemimpin selalu berupaya untuk berperan
sebagai “pemain tunggal” dan berambisi sekali untuk merajai situasi. setiap
perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya, dan
tidak pernah memberikan informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang
akan dilakukan oleh staf. Semua pujian dan kritikan terhadap staf diberikan
atas pertimbangan sendiri, dan pemimpin selalu jauh dari anggota/stafnya. jadi
di dalam kepemimpinan otokratik seorang pemimpin memiliki sikap untuk
menyisihkan diri, dan tidak bergaul dengan stafnya. Pemimpin Otokratik
senantiasa ingin berkuasa mutlak dan tunggal serta selalu ingin menguasai keadaan.
Kepemimpinan otokratik seperti sebuah sistem pemanas yang memberikan energi
tanpa melihat dan mempertimbangkan iklim, situasi emosional staf dan
lingkungannya.
- Gaya Laissez Faire
Gaya kepemimpinan Laissez Faire sebenarnya seorang pemimpin praktis
tidak memimpin, Sebab Dia membiarkan kelompok atau stafnya untuk berbuat
berdasarkan kehendak sendiri dan pemimpin tidak berpartisipasi aktif dalam
kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh
bawahannya. Pemimpin hanya simbol semata, dan ia biasanya tidak memiliki
keterampilan teknis. Seorang yang menjadi pemimpin dengan gaya Laissez Faire, biasanya memperoleh kedudukan tersebut
melalui penyogokan, suapan, atau karena adanya sistem nepotisme. dia tidak
mempunyai kewibawaan dan tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol stafnya.
Dalam gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin tidak bisa melakukan koordinasi
dengan stafnya, dan tidak berdaya sama sekali untuk menciptakan suasana kerja
yang kooperatif.
Suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang
bergaya Laissez Faire, umumnya suatu organisasi yang tidak teratur dan kacau
balau, sehingga identik dengan perusahaan tanpa kepala. Ringkasnya, pemimpin
yang Laissez Faire pada hakikatnya nya bukanlah seorang pemimpin yang sebenarnya,
karena bawahan dalam situasi kerja sedemikian itu sama sekali tidak terkontrol,
tanpa disiplin, bekerja semua semaunya sendiri dan dengan keinginannya sendiri.
- Gaya Populis
Worsley (1998) dalam bukunya The Third World, memaknai gaya
kepemimpinan populis sebagai pemimpin kepemimpinan yang membangunkan
solidaritas rakyat, seperti Soekarno dengan ideologi Marahainismenya,
menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme dan sikap yang berhati-hati
terhadap penindasan-penghisap and dari penguasaan kekuatan asing (Luar negeri)
Kepemimpinan Populis ini berpegang teguh pada nilai-nilai
masyarakat yang tradisional, dan kurang mempercayai bantuan serta dukungan
kekuatan-kekuatan luar negeri. Kepemimpinan dengan gaya ini mengutamakan
penghidupan kembali Nasionalisme. Eisentadt (1981) menyebutkan bahwa Populisme
ini erat kaitannya dengan modernitas tradisional.
- Gaya Administratif
Gaya kepemimpinan administratif adalah gaya kepemimpinan yang mampu
menyelenggarakan administrasi yang efektif. Sedang para pemimpinnya terdiri
atas pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan
pembangunan. Melalui kepemimpinan administratif, dapat dibangun sistem
administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah, khususnya untuk
memantapkan integritas pada khususnya dan usaha-usaha pembangunan pada umumnya.
Dengan kepemimpinan administratif ini, diharapkan adanya perkembangan teknis,
yaitu teknologi, industri dan manajemen modern dengan perkembangan sosial di
tengah-tengah masyarakat.
- Gaya Demokratis
Kepemimpinan demokratis menitikberatkan pada bimbingan yang efisien
kepada para anggota atau pengikutnya. koordinasi pekerjaan terjalin baik dengan
semua lini, terutama penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri
sendiri) dan kerjasama yang baik. kepemimpinan demokratis ini bukanlah masalah
“person atau individu pemimpin”, akan tetapi kekuatannya terletak Justru pada
partisipasi aktif dari setiap anggota kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau
Mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, bersedia mengakui keahlian para
spesialis dengan bidangnya masing-masing, dan mampu memanfaatkan anggota
seefektif, mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Kepemimpinan demokratis biasanya berlangsung dengan mantap, dengan
adanya gejala-gejala sebagai berikut; organisasi dengan segenap
bagian-bagiannya berjalan lancar, sekalipun pemimpin tersebut tidak ada di
kantor. Otoritas sepenuhnya didelegasikan ke bawah, dan masing-masing orang
menyadari tugas dan tanggung jawab atau kewajibannya. Dalam kepemimpinan
demokratis, seorang pemimpin mengutamakan tujuan kesejahteraan pada umumnya dan
kelancaran kerja sama dari setiap warga kelompok. dengan begitu, pemimpin
demokratis berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat dinamisme dan
kerjasama, demi pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang paling cocok
dengan jiwa kelompok dan situasinya. Secara ringkas dapat dinyatakan,
kepemimpinan demokratis menitikberatkan masalah aktivitas anggota kelompoknya,
termasuk juga para pemimpinnya. Kesemuanya itu terlibat aktif dalam penentuan
sikap, penyusunan rencana dan program, pembuatan keputusan, disiplin kerja
(yang ditanamkan secara sukarela oleh kelompok atau suasana demokratis) dan
etika.
D.
Gaya
kepemimpinan lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan islam
Kajian kepemimpinan merupakan sesuatu yang tidak hanya bisa
dipelajari, diteliti bahkan bisa dikenal kecenderungan tipe, gaya ataupun
perilaku seseorang yang paling menonjol sekaligus, yang berperan penting dalam
kesuksesannya memimpin lembaga yang dipimpinnya, baik lembaga umum atau lembaga
pendidikan islam. Seseorang sukses menjadi pimpinan lembaga pendidikan umum
atau lembaga pendidikan islam (pondok pesantren) bisa jadi karena strategi yang
digunakan, tetapi juga karena ciri atau sifatnya yang menonjol dari dalam diri
pribadinya
Dari beberapa penjelasan tentang pengertian gaya kepemimpinan
diatas maka bisa dikatakan cara atau gaya
seorang pemimpin dalam menggerakkan orang yang dipimpin, gaya apapun sah
dan boleh digunakan, setiap pemimpin mempunyai gaya yang berbeda antara satu
dengan yang lain, orientasinya adalah pada pengaruh yang dihasilkan seorang
pemimpin, karena pemimpin itu sejatinya harus mampu menggerakkan dan
mempengaruhi orang yang dipimpin sesuai dengan tujuan yang diinginkan,
Jika dilihat dari teori situasional, “pemimpin harus memiliki daya
lentur/fleksibel, tidak kaku, dan mudah menyesuaikan diri terhadap berbagai
tuntutan situasi dan zamannya”.[6]
bisa disimpulkan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu
menkombinasikan gaya yang ada sesuai dengan situasinya
1.
Gaya
kepemimpinan lembaga pendidikan umum
Salah satu contoh kepemimpinan seseorang dalam lembaga pendidikan
umum dapat kita lihat dari hasil penelitian Lilis Suryani dan Siti Ina Savira
yang berjudul “MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN KINERJA GURU
DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (studi kasus SD Negeri Babatan 1/456 Surabaya)”[7].
Dari hasil penelitian diatas, gaya kepemimpinan kepala sekolah SD Negeri Babatan 1/456 Surabaya adalah gaya
demokratis, ini dapat dilihat dari beberapa ciri-ciri sebagai berikut
·
Kepala
sekolah sangat terbuka
·
Pendelegasian
tugas diberikan secara adil dan memberikan arahan tentang tugas apa yang harus
diselesaikan
·
Pengambilan
keputusan dilakukan dengan melibatkan seluruh personil sekolah
·
Komunikasi
dua arah, terbuka, dan menerima saran dari bawahan
2.
Gaya
kepemimpinan kiayi di pondok pesantren
Setiap kiyai mempunya karakter dan gaya yang berbeda, Contoh gaya
kepemimpinan kiyai pada pondok pesantren pada hasil penelitian Rusmini yang
termuat pada jurnal studi Keislaman, Volume 15, Nomor 2, Desember 2015 dengan
judul GAYA KEPEMIMPINAN KIYAI LUKMAN AL-KARIM DALAM PENGEMBANGAN LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang)
“menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan kiyai lukman adalah Kharismatik dan
Demokratis. Kharismatiknya dapat dilihat dari dukungan massa. Para bawahan dan
masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap kepemimpinan beliau, juga
terhadap segala programprogram pengembangan yang telah direncanakannya serta
mereka berusaha memberikan kontribusi yang positif dalam upaya pengembangan
pondok pesantren. Sedangkan demokratisnya Kiyai tidak hanya berorientasi pada
kerja saja tapi juga pada hasil, kiyai juga sepenuhnya memberikan kepercayaan
terhadap bahawahan terkait tugas dan kewajiban dalam mengembangkan dan kiyai
menjadi pengawas”[8].
Pada penelitian yang lain Yudi Trisno Wibowo dalam Skripsinya mengangkat
sebuah judul penelitian GAYA KEPEMIMPINAN KIYAI YUSUF DALAM PENGEMBANGAN PONDOK
PESANTREN ASSALAFI AL-AAFIYY’AH WAYLAGA SUKABUMI KOTA BANDAR LAMPUNG
“Dari hasil penelitian yudi tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya
kepemimpinan kiyai yusuf adalah kharismatik, patternalistik, dan demokrasi. Menurut
Asep Saipudin Wakil Ketua I Pondok Pesantren Assalfi Al-Aafiyy’ah yang dikutip
pada skripsi Yudi Trisno Wibowo, Kyai Yusuf adalah sosok yang memiliki
keistimewaan tersendiri, Kepemipinan kyai yusuf
yang bercorak pelindung, bapak dan guru, menunjukkan bahwa gaya yang
digunakan adalah patternalistik dari sisi
demokratis dapat dilihat , Beliau memberi keleluasaan kepada kami untuk
mengusulkan dan mengadakan kegiatan secara mandiri, sementara beliau hanya
berlaku sebagai penasehat dalam hal ini,
pendapat ini juga di perkuat oleh pengurus lainnya dia berpendapat bahwa
Beliau sangat terbuka terhadap ide-ide kami bahkan kami dipersilahkan untuk
mengadakan kegiatan sendiri tanpa komando beliau namun oleh beliau tetap
dibimbing jika ada masalah-masalah dalam pelaksanaan kedepannya”.[9]
Kepemimpinan kyai dipondok pesantren sampai saat ini bisa dikatakan
masih didomonasi dengan gaya kepemimpinan kharismatik, gaya kharismatik memang
memiliki daya tarik dan pembawaan yang luar biasa, sehingga ia mempunyai
pengikut dan jumlah yang sangat luar biasa, rata-rata lembaga pendidikan islam
(khususnya pesantren) sangat bergantung pada sosok figur seorang kiyai
tersebut, memang pada awalnya ini menjdi kekuatan tersendiri, tetapi pada
akhirnya ini juga yang akan menjadi kelemahan pesantren jika tidak adanya
regenerasi kepemimpinan yang mampunya melebihi atau mungkin mengimbangi dari
kharismatik kiyai tersebut, kecenderungan dari kharismatik adalah ketergantungan
yang tinggi kepada pemimpin sehingga regenerasi untuk pemimpin yang kompeten
sulit, ini juga yang terkadang jadi penghambat, ketika pemimpinnya meninggal
maka tidak sedikit lembaga yang dipimpinnya juga ikut meninggal.
Daftar Pustaka
Abbas Syahrizal, Manajemen
Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana, 2013, Cetakan ke3,
Daryanto M. Administrasi dan
Manajemen Sekolah , Jakarta: rineka cipta, 2013.
Purwanto Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan
, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003.
Rivai V dan Mulyadi D, Kepemimpinan
dan Perilaku Organisasi, Jakarta:
Rajawali Pers, 2002
Rusmini, Gaya Kepemimpinan Kiyai
Lukman Al-Karim Dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus Di
Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang) Jurnal Studi Keislaman, Volume 15, Nomor
2, Desember 2015 Dikutip dari https://media.neliti.com/media/publications/58174-ID-gaya-kepemimpinan-kyai-lukman-al-karim-d.pdf
Shahih:
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609). Disha-hihkan oleh Syaikh al-Albani t
dalam Shahiihul Jaami’ (no. 763) dan Shahiih Sunan Abi Dawud (II/495). Dikutip
dari https://almanhaj.or.id/4007-adab-adab-safar.html diakses pada tanggal 5 Oktober
2019
Suryani Lilis dan Siti Ina
Savira, Manajemen Kepala Sekolah
Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Dan Tenaga Kependidikan, Jurnal
Dinamika Manajemen Pendidikan Vol. 1 Tahun 2016 dikutip dari
Wibowo Yudi Trisno, Dalam Skripsinya Gaya Kepemimpinan Kiyai Yusuf
Dalam Pengembangan Pondok Pesantren Assalafi Al-Aafiyy’ah Waylaga Sukabumi Kota
Bandar Lampung. Dikutip dari
[1] Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.
2609). Disha-hihkan oleh Syaikh al-Albani t dalam Shahiihul Jaami’ (no. 763)
dan Shahiih Sunan Abi Dawud (II/495). Dikutip dari https://almanhaj.or.id/4007-adab-adab-safar.html diakses pada tanggal 5 Oktober 2019
[2] Rivai V dan
Mulyadi D, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi ( Jakarta:
Rajawali Pers, 2002), hal. 42
[3] M. Daryanto, Administrasi dan Manajemen Sekolah (Jakarta: rineka cipta, 2013), hal. 103
[4] Ngalim
Purwanto, Administrasi dan Supervisi
Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003), hal. 32
[5] Syahrizal Abbas,
Manajemen Perguruan Tinggi (Jakarta: Kencana, 2013), cetakan ke3, hal.
41
[6] Ibid
hal. 40
[7] Lilis Suryani
dan Siti Ina Savira, Manajemen Kepala
Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Dan Tenaga Kependidikan, Jurnal
Dinamika Manajemen Pendidikan Vol. 1 Tahun 2016 dikutip dari http://journal.unesa.ac.id/index.php/jdmp/article/view/555/405 diakses pada
tanggal 05 Oktober 2019
[8]
Rusmini, Gaya
Kepemimpinan Kiyai Lukman Al-Karim Dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam
(Studi Kasus Di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang) Jurnal Studi
Keislaman, Volume 15, Nomor 2, Desember 2015 Dikutip dari https://media.neliti.com/media/publications/58174-ID-gaya-kepemimpinan-kyai-lukman-al-karim-d.pdf diakses pada
tanggal 5 oktober 2019
[9] Yudi Trisno Wibowo Dalam Skripsinya Gaya Kepemimpinan Kiyai Yusuf
Dalam Pengembangan Pondok Pesantren Assalafi Al-Aafiyy’ah Waylaga Sukabumi Kota
Bandar Lampung. Dikutip dari http://repository.radenintan.ac.id/5058/1/YUDI%20TRISNO%20WIBOWO.pdf yang diakses pada tanggal 5 oktober 2019