Rabu, 09 Oktober 2019

gaya kepemimpinan dalam lembaga pendidikan umum dan islam


GAYA KEPEMIMPINAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN UMUM DAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Hal-hal yang  berkaitan dengan pendidikan selalu menarik untuk dibahas dan dikaji secara mendalam, karena disatu pihak merupakan suatu akibat dari berbagai pengaruh yang ada di luar, seperti pengaruh sosial, ekonomi, politik, dan budaya, baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat negatif. Di pihak lain, pendidikan merupakan kekuatan yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Menurut Jean Piaget “ only education is capable of saving our societies from possible collepse, whether violent or gradual” hanya pendidikan yang mampu menyelamatkan masyrakat kita dari kemungkinan keruntuhannya baik secara keras revolusi atau evolusi, seperti apa pendidikan seperti itulah nanti cerminan masyarakat kita
Lembaga pendidikan merupakan salah satu bentuk organisasi, dan dalam organisasi kepemimpinan memegang peranan yang sangat menentukan dalam menggerakkan dan memanfaatkan potensi yang dimiliki organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kita juga sering mendengar betapa pentingnya memilih pemimpin, Rosulullah bersabda
 إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ.
“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.”[1]
Betapa pentingnya pemimpin dalam suatu organisasi sekolah, kemana arah lembaga pendidikan tersebut diarahkan bergantung besar salah satunya pada seorang pemimpin karena Kepemimpinan adalah seni dalam mempengaruhi orang lain dengan tujuan tercapainya apa-apa yang diinginkan, setiap orang mempunya karakter dan gayanya masing-masing dalam memimpin, maka dari itu makalah ini akan coba mengulas bagaimana gaya seorang pemimpin dalam kepemimpinannya berdasarkan teori-teori dari para ahli tentang gaya-gaya kepemimpinan dalam lembaga atau suatu organisasi  khususnya lembaga pendidikan islam

Pembahasan
B.     Pengertian gaya kepemimpinan
            Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasi tipe kepemimpinan. “Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar yaitu mementingkan pelaksanaan tugas, yang mementingkan hubungan kerja sama, dan yang mementingkan hasil yang dapat dicapai”.[2]
“gaya kepemimpinan adalah cara yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya, menurut Thoha yang dikutip dari buku Daryanto, gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Dalam hal ini usaha menyelaraskan persepsi diantara orang yang akan mempengaruhi perilaku dan yang akan dipengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.
            Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seseorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya”.[3]
Menurut ngalim purwanto “Pendidikan perilaku berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan ditentukan oleh sikap atau gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin”.[4]
Dapat disimpulkan dari beberapa pendapat diatas bahwa gaya kepemimpinan adalah gaya atau cara bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi orang yang dipimpin dalam rangka mencapai tujuan dari kepentingan lembaga atau organisasi tersebut,


C.     Macam-macam gaya kepemimpinan
“Menurut Syahrizal Abbas dalam bukunya ada 8 gaya kepemimpinan”.[5]
  1. Gaya Kharismatik
Gaya kepemimpinan Kharismatik memiliki daya tarik dan pembawaan yang luar biasa, sehingga ia mempunyai pengikut dan jumlahnya yang sangat luar biasa. sampai sekarang pun orang tidak mengetahui sebab-sebab secara pasti Mengapa seseorang itu memiliki Kharisma yang begitu besar. para peneliti studi Leadhersip menemukan bahwa seorang pemimpin karismatik memiliki keterkaitan dengan kekuatan gaib (Supernatural), dimana kekuatan-kekuatan-nya diperoleh dari Yang Maha Kuasa. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan daya tarik yang amat besar. tokoh besar yang barangkali dapat dikategorikan kedalam Pemimpin yang memiliki gaya Kharismatik antara lain Jengis Khan, Gandhi, John Kennedy, Soekarno dan lain-lain.
  1. Gaya Patternalistik dan Matternalistik
Gaya kepemimpinan Patternalistik adalah gaya kepemimpinan yang mengikuti pola hubungan orang tua dengan anak, sehingga gaya ini dikenal dengan gaya kepemimpinan “Kebapakan”. Ciri gaya kepemimpinan Patternalistik adalah:
  • Atasan menganggap bawahan sebagai manusia yang belum dewasa, dan bersikap terlalu melindungi (Over Protektif) sehingga bawahan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri melalui inovasi-inovasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Atasan jarang sekali memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif atau mengambil keputusan sendiri. Akibatnya, staf selalu dibayangi oleh atasannya dalam menjalankan tugas
  • Atasan jarang memberikan kesempatan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk mengembangkan kreativitasnya
  • Atasan bersikap selalu lebih tahu atau lebih benar, dan sedikit sekali dapat menerima masukan dan saran dari bawahannya.
Gaya kepemimpinan Matternalistik mirip dengan gaya kepemimpinan Patternalistik dengan sedikit perbedaan yaitu adanya sikap Over Protective atau terlalu melindungi yang lebih menonjol dan disertai dengan kasih sayang yang berlebihan.
  1. Gaya Militeristik
Gaya kepemimpinan kepemimpinan Militeristik berbeda dengan gaya kepemimpinan dalam organisasi militer. sifat dan gaya kepemimpinan militeristik antaralain:
·      Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando kepada bawahannya.
·      Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan nya.
·      Menyenangi formalitas dan upacara-upacara ritual yang berlebihan.
·      Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahan nya (disiplin kadaver)
·      Tidak menghendaki saran-saranatau kritikan dari bawahannya.
  1. Gaya Otokratik
Gaya pemimpin Otokraktik mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang harus selalu dipatuhi. Pemimpin selalu berupaya untuk berperan sebagai “pemain tunggal” dan berambisi sekali untuk merajai situasi. setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya, dan tidak pernah memberikan informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang akan dilakukan oleh staf. Semua pujian dan kritikan terhadap staf diberikan atas pertimbangan sendiri, dan pemimpin selalu jauh dari anggota/stafnya. jadi di dalam kepemimpinan otokratik seorang pemimpin memiliki sikap untuk menyisihkan diri, dan tidak bergaul dengan stafnya. Pemimpin Otokratik senantiasa ingin berkuasa mutlak dan tunggal serta selalu ingin menguasai keadaan. Kepemimpinan otokratik seperti sebuah sistem pemanas yang memberikan energi tanpa melihat dan mempertimbangkan iklim, situasi emosional staf dan lingkungannya.
  1. Gaya Laissez Faire
Gaya kepemimpinan Laissez Faire sebenarnya seorang pemimpin praktis tidak memimpin, Sebab Dia membiarkan kelompok atau stafnya untuk berbuat berdasarkan kehendak sendiri dan pemimpin tidak berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya. Pemimpin hanya simbol semata, dan ia biasanya tidak memiliki keterampilan teknis. Seorang yang menjadi pemimpin dengan gaya Laissez  Faire, biasanya memperoleh kedudukan tersebut melalui penyogokan, suapan, atau karena adanya sistem nepotisme. dia tidak mempunyai kewibawaan dan tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol stafnya. Dalam gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin tidak bisa melakukan koordinasi dengan stafnya, dan tidak berdaya sama sekali untuk menciptakan suasana kerja yang kooperatif.
      Suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang bergaya Laissez Faire, umumnya suatu organisasi yang tidak teratur dan kacau balau, sehingga identik dengan perusahaan tanpa kepala. Ringkasnya, pemimpin yang Laissez Faire pada hakikatnya nya bukanlah seorang pemimpin yang sebenarnya, karena bawahan dalam situasi kerja sedemikian itu sama sekali tidak terkontrol, tanpa disiplin, bekerja semua semaunya sendiri dan dengan keinginannya sendiri.
  1. Gaya Populis
Worsley (1998) dalam bukunya The Third World, memaknai gaya kepemimpinan populis sebagai pemimpin kepemimpinan yang membangunkan solidaritas rakyat, seperti Soekarno dengan ideologi Marahainismenya, menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme dan sikap yang berhati-hati terhadap penindasan-penghisap and dari penguasaan kekuatan asing (Luar negeri)
Kepemimpinan Populis ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional, dan kurang mempercayai bantuan serta dukungan kekuatan-kekuatan luar negeri. Kepemimpinan dengan gaya ini mengutamakan penghidupan kembali Nasionalisme. Eisentadt (1981) menyebutkan bahwa Populisme ini erat kaitannya dengan modernitas tradisional.
  1. Gaya Administratif
Gaya kepemimpinan administratif adalah gaya kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan administrasi yang efektif. Sedang para pemimpinnya terdiri atas pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Melalui kepemimpinan administratif, dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah, khususnya untuk memantapkan integritas pada khususnya dan usaha-usaha pembangunan pada umumnya. Dengan kepemimpinan administratif ini, diharapkan adanya perkembangan teknis, yaitu teknologi, industri dan manajemen modern dengan perkembangan sosial di tengah-tengah masyarakat.
  1. Gaya Demokratis
Kepemimpinan demokratis menitikberatkan pada bimbingan yang efisien kepada para anggota atau pengikutnya. koordinasi pekerjaan terjalin baik dengan semua lini, terutama penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kepemimpinan demokratis ini bukanlah masalah “person atau individu pemimpin”, akan tetapi kekuatannya terletak Justru pada partisipasi aktif dari setiap anggota kelompok.
      Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau Mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing, dan mampu memanfaatkan anggota seefektif, mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Kepemimpinan demokratis biasanya berlangsung dengan mantap, dengan adanya gejala-gejala sebagai berikut; organisasi dengan segenap bagian-bagiannya berjalan lancar, sekalipun pemimpin tersebut tidak ada di kantor. Otoritas sepenuhnya didelegasikan ke bawah, dan masing-masing orang menyadari tugas dan tanggung jawab atau kewajibannya. Dalam kepemimpinan demokratis, seorang pemimpin mengutamakan tujuan kesejahteraan pada umumnya dan kelancaran kerja sama dari setiap warga kelompok. dengan begitu, pemimpin demokratis berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat dinamisme dan kerjasama, demi pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang paling cocok dengan jiwa kelompok dan situasinya. Secara ringkas dapat dinyatakan, kepemimpinan demokratis menitikberatkan masalah aktivitas anggota kelompoknya, termasuk juga para pemimpinnya. Kesemuanya itu terlibat aktif dalam penentuan sikap, penyusunan rencana dan program, pembuatan keputusan, disiplin kerja (yang ditanamkan secara sukarela oleh kelompok atau suasana demokratis) dan etika.
D.    Gaya kepemimpinan lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan islam
Kajian kepemimpinan merupakan sesuatu yang tidak hanya bisa dipelajari, diteliti bahkan bisa dikenal kecenderungan tipe, gaya ataupun perilaku seseorang yang paling menonjol sekaligus, yang berperan penting dalam kesuksesannya memimpin lembaga yang dipimpinnya, baik lembaga umum atau lembaga pendidikan islam. Seseorang sukses menjadi pimpinan lembaga pendidikan umum atau lembaga pendidikan islam (pondok pesantren) bisa jadi karena strategi yang digunakan, tetapi juga karena ciri atau sifatnya yang menonjol dari dalam diri pribadinya
Dari beberapa penjelasan tentang pengertian gaya kepemimpinan diatas maka bisa dikatakan cara atau gaya  seorang pemimpin dalam menggerakkan orang yang dipimpin, gaya apapun sah dan boleh digunakan, setiap pemimpin mempunyai gaya yang berbeda antara satu dengan yang lain, orientasinya adalah pada pengaruh yang dihasilkan seorang pemimpin, karena pemimpin itu sejatinya harus mampu menggerakkan dan mempengaruhi orang yang dipimpin sesuai dengan tujuan yang diinginkan,
Jika dilihat dari teori situasional, “pemimpin harus memiliki daya lentur/fleksibel, tidak kaku, dan mudah menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan situasi dan zamannya”.[6] bisa disimpulkan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu menkombinasikan gaya yang ada sesuai dengan situasinya
1.      Gaya kepemimpinan lembaga pendidikan umum
Salah satu contoh kepemimpinan seseorang dalam lembaga pendidikan umum dapat kita lihat dari hasil penelitian Lilis Suryani dan Siti Ina Savira yang berjudul “MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN KINERJA GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (studi kasus SD Negeri Babatan 1/456 Surabaya)”[7]. Dari hasil penelitian diatas, gaya kepemimpinan kepala sekolah  SD Negeri Babatan 1/456 Surabaya adalah gaya demokratis, ini dapat dilihat dari beberapa ciri-ciri sebagai berikut
·         Kepala sekolah sangat terbuka
·         Pendelegasian tugas diberikan secara adil dan memberikan arahan tentang tugas apa yang harus diselesaikan
·         Pengambilan keputusan dilakukan dengan melibatkan seluruh personil sekolah
·         Komunikasi dua arah, terbuka, dan menerima saran dari bawahan
2.      Gaya kepemimpinan kiayi di pondok pesantren
Setiap kiyai mempunya karakter dan gaya yang berbeda, Contoh gaya kepemimpinan kiyai pada pondok pesantren pada hasil penelitian Rusmini yang termuat pada jurnal studi Keislaman, Volume 15, Nomor 2, Desember 2015 dengan judul GAYA KEPEMIMPINAN KIYAI LUKMAN AL-KARIM DALAM PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang) “menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan kiyai lukman adalah Kharismatik dan Demokratis. Kharismatiknya dapat dilihat dari dukungan massa. Para bawahan dan masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap kepemimpinan beliau, juga terhadap segala programprogram pengembangan yang telah direncanakannya serta mereka berusaha memberikan kontribusi yang positif dalam upaya pengembangan pondok pesantren. Sedangkan demokratisnya Kiyai tidak hanya berorientasi pada kerja saja tapi juga pada hasil, kiyai juga sepenuhnya memberikan kepercayaan terhadap bahawahan terkait tugas dan kewajiban dalam mengembangkan dan kiyai menjadi pengawas”[8].
Pada penelitian yang lain Yudi Trisno Wibowo dalam Skripsinya mengangkat sebuah judul penelitian GAYA KEPEMIMPINAN KIYAI YUSUF DALAM PENGEMBANGAN PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL-AAFIYY’AH WAYLAGA SUKABUMI KOTA BANDAR LAMPUNG
“Dari hasil penelitian yudi tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan kiyai yusuf adalah kharismatik, patternalistik, dan demokrasi. Menurut Asep Saipudin Wakil Ketua I Pondok Pesantren Assalfi Al-Aafiyy’ah yang dikutip pada skripsi Yudi Trisno Wibowo, Kyai Yusuf adalah sosok yang memiliki keistimewaan tersendiri, Kepemipinan kyai yusuf  yang bercorak pelindung, bapak dan guru, menunjukkan bahwa gaya yang digunakan adalah patternalistik dari sisi  demokratis dapat dilihat , Beliau memberi keleluasaan kepada kami untuk mengusulkan dan mengadakan kegiatan secara mandiri, sementara beliau hanya berlaku sebagai penasehat dalam hal ini,  pendapat ini juga di perkuat oleh pengurus lainnya dia berpendapat bahwa Beliau sangat terbuka terhadap ide-ide kami bahkan kami dipersilahkan untuk mengadakan kegiatan sendiri tanpa komando beliau namun oleh beliau tetap dibimbing jika ada masalah-masalah dalam pelaksanaan kedepannya”.[9]
Kepemimpinan kyai dipondok pesantren sampai saat ini bisa dikatakan masih didomonasi dengan gaya kepemimpinan kharismatik, gaya kharismatik memang memiliki daya tarik dan pembawaan yang luar biasa, sehingga ia mempunyai pengikut dan jumlah yang sangat luar biasa, rata-rata lembaga pendidikan islam (khususnya pesantren) sangat bergantung pada sosok figur seorang kiyai tersebut, memang pada awalnya ini menjdi kekuatan tersendiri, tetapi pada akhirnya ini juga yang akan menjadi kelemahan pesantren jika tidak adanya regenerasi kepemimpinan yang mampunya melebihi atau mungkin mengimbangi dari kharismatik kiyai tersebut, kecenderungan dari kharismatik adalah ketergantungan yang tinggi kepada pemimpin sehingga regenerasi untuk pemimpin yang kompeten sulit, ini juga yang terkadang jadi penghambat, ketika pemimpinnya meninggal maka tidak sedikit lembaga yang dipimpinnya juga ikut meninggal.






























Daftar Pustaka
Abbas Syahrizal, Manajemen Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana, 2013, Cetakan ke3,
Daryanto M. Administrasi dan Manajemen Sekolah , Jakarta: rineka cipta, 2013.
Purwanto Ngalim,  Administrasi dan Supervisi Pendidikan , Bandung:  Remaja Rosda Karya, 2003.
Rivai V dan Mulyadi D, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi,  Jakarta:  Rajawali Pers, 2002
Rusmini, Gaya Kepemimpinan Kiyai Lukman Al-Karim Dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang) Jurnal Studi Keislaman, Volume 15, Nomor 2, Desember 2015 Dikutip dari https://media.neliti.com/media/publications/58174-ID-gaya-kepemimpinan-kyai-lukman-al-karim-d.pdf
Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609). Disha-hihkan oleh Syaikh al-Albani t dalam Shahiihul Jaami’ (no. 763) dan Shahiih Sunan Abi Dawud (II/495). Dikutip dari  https://almanhaj.or.id/4007-adab-adab-safar.html diakses pada tanggal  5 Oktober  2019
Suryani Lilis dan Siti Ina Savira,  Manajemen Kepala Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Dan Tenaga Kependidikan, Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan Vol. 1 Tahun 2016 dikutip dari
Wibowo Yudi Trisno, Dalam Skripsinya Gaya Kepemimpinan Kiyai Yusuf Dalam Pengembangan Pondok Pesantren Assalafi Al-Aafiyy’ah Waylaga Sukabumi Kota Bandar Lampung. Dikutip dari


[1] Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609). Disha-hihkan oleh Syaikh al-Albani t dalam Shahiihul Jaami’ (no. 763) dan Shahiih Sunan Abi Dawud (II/495). Dikutip dari  https://almanhaj.or.id/4007-adab-adab-safar.html diakses pada tanggal  5 Oktober  2019
[2] Rivai V dan Mulyadi D, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi  ( Jakarta:  Rajawali Pers, 2002), hal.  42
[3] M. Daryanto,  Administrasi dan Manajemen Sekolah  (Jakarta: rineka cipta, 2013), hal. 103
[4] Ngalim Purwanto,  Administrasi dan Supervisi Pendidikan  (Bandung:  Remaja Rosda Karya, 2003),  hal. 32
[5] Syahrizal Abbas, Manajemen Perguruan Tinggi (Jakarta: Kencana, 2013), cetakan ke3, hal. 41
[6] Ibid hal. 40
[7] Lilis Suryani dan Siti Ina Savira,  Manajemen Kepala Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Dan Tenaga Kependidikan, Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan Vol. 1 Tahun 2016 dikutip dari http://journal.unesa.ac.id/index.php/jdmp/article/view/555/405 diakses pada tanggal 05 Oktober 2019
[8] Rusmini, Gaya Kepemimpinan Kiyai Lukman Al-Karim Dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang) Jurnal Studi Keislaman, Volume 15, Nomor 2, Desember 2015 Dikutip dari https://media.neliti.com/media/publications/58174-ID-gaya-kepemimpinan-kyai-lukman-al-karim-d.pdf diakses pada tanggal 5 oktober 2019
[9] Yudi Trisno Wibowo Dalam Skripsinya Gaya Kepemimpinan Kiyai Yusuf Dalam Pengembangan Pondok Pesantren Assalafi Al-Aafiyy’ah Waylaga Sukabumi Kota Bandar Lampung. Dikutip dari http://repository.radenintan.ac.id/5058/1/YUDI%20TRISNO%20WIBOWO.pdf yang diakses pada tanggal 5 oktober 2019

9 komentar:

  1. Coba anda jelaskan perbedaan antara gaya kepemimpinan di lembaga pendidikan umum dengan di lembaga pendidikan islam.. Letak perbedaan nya itu dimana?

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas pertanyaannya,
    Saya coba untuk menjawab,
    Sebetulnya gaya kpemimpinan setiap orang itu berbeda. Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, watak dan kepribadian sendiri yang khas. Sehingga tingkah laku dan gayanyalah yang membedakan dirinya dengan orang lain.
    Artinya dalam lembaga umum ataupun lembaga islam gaya kepemimpinan itu sesuai dg watak, kepribadian, sifat dll dari pemimpin tersebut
    Terimakasih🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apakah itu berarti tidak ada beda nya antara gaya kepemimpinan di lembaga umum dan lembaga islam ?
      Perbedaan sudah pasti ditemukan, tapi hanya beda di watak, kepribadian, sifat, dll ?
      Lantas mengapa kita membedakan antara lembaga umum dan islam ? Apakah itu tidak menimbulkan dualisme pemikiran ?

      Hapus
    2. Terimakasih,
      Ya, gaya kepemimpinan secara teori semua sama, hanya saja dlm praktek watak kepribadian sifat lah yg membedakan gaya mana yg akan digunakan, dan situasinya seperti apa, maka pemimpin dituntut untuk fleksibel dan mampu memenuhu kebutuhan sesuai tuntutan zaman,
      Bukan berarti membedakan, tapi makalah ini coba menganalisa gaya kpemimpinan dilembaga pendidikan umum seperti apa dan pendidikan islam seperti apa,
      Sebagai mana dijlas dimakalah, bahwa dlm pendidikan islam(pesantren) didominasi oleh gaya kharismatik, tapi bukan berarti seluruh pesantren gaya kepemimpinannya kharismatik,
      Saya rasa demikian
      Terimakasih 🙏

      Hapus
  3. Apakah Gaya Kepemimpinan Situasional Dibutuhkan oleh Seorang Pemimipin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kareena pemimpin harus memiliki daya lentur/fleksibel, tidak kaku, dan mudah menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan situasi dan zamannya”

      Hapus
  4. Bukanny jika itu insitusi atau lembaga adalah pemimpin sbgaia owner, sah2 saja jk dia mau menerapkan gaya apa saja trmasuk otoriter maupun kaku sbgai ciri khas atau identitas pribadinya dan gayanya itu justru membangun kemmpuan bwahan krn mnjd dorongan kuat (trpaksa brkembang), jd mau tdk mau bawahannya atau guru jk di Yyasan harus terima dng konsekuensi membuthkan pekerjaan.

    BalasHapus
  5. ya saya sepakat, bahwa seorang pemimpin sah sah saja untuk menggunakan gaya kepemimpinan seperti apa, asalkan tujuan dari apa yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai harapan dan efisien, terkait masalah paksaan saya rasa itu hal yang lain, dan itu sdah menjadi konsekuensi dari keputusanya untuk berkontribusi dalam kepemimpinan pemimpin otoriter tersebut,. lebih baik terpaksa untuk mencapai tujuan, daripada sesuai keikhlasan tapi tak tercapai tujuan.

    BalasHapus